Info & Berita > Berita & Kegiatan > Berita dan Kegiatan di Indonesia

 
Berita dan Kegiatan

di Indonesia

Penganiayaan
Fakta untuk Media

VIdeo Klarifikasi Fakta

Hubungi Kami

Masukkan Artikel

Pawai, Pengadilan Terbuka Jiang Zemin danKonferensi Falun Dafa Indonesia di Jakarta Tahun 2004

Untuk keempat kalinya, Himpunan Falun Gong Indonesia mengadakan kegiatan "Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi Falun Dafa" pada Minggu, 12 September 2004. Konferensi tingkat nasional yang diadakan setiap setahun sekali ini merupakan ajang pertemuan para praktisi Falun Gong yang tersebar di Tanah Air. Dua konferensi sebelumnya juga diadakan di Jakarta, dan terakhir pada tahun 2003 digelar di Denpasar, Bali.

Sehari sebelum konferensi, diadakan pawai yang diikuti oleh sekitar 300 praktisi Falun Gong dari berbagai daerah. Kegiatan pawai yang diorganisir Solidaritas Falun Gong Indonesia ini lebih besar dan beragam dibandingkan dengan kegiatan serupa yang diadakan pada tanggal 17 Juli 2004 lalu. Selain arak-arakan praktisi pembawa foto korban penyiksaan di China, peragaan latihan, dan peragaan penyiksaan, ada juga rombongan perempuan mengenakan pakaian Tiongkok kuno jaman Dinasti Tang, dan pasukan penabuh genderang (tambur) khas Tiongkok di barisan depan. Pawai dimulai siang hari dari depan Kedubes China, Kuningan berjalan menuju Jalan Casablanca, di Jalan Sudirman dan berakhir di Bundaran HI, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Dalam kegiatan ini, orang tua dan anak-anak bergabung dengan orang dewasa yang tanpa lelah mengikuti arak-arakan pawai di tengah terik matahari yang menyengat.

Kegiatan yang menarik perhatian banyak orang ini dimaksudkan untuk membuktikan kebaikan dan kebenaran Falun Dafa, serta mengklarifikasi fakta yang sebenarnya terjadi di negeri Tirai Bambu. Seperti diketahui, dalam 5 tahun ini, mantan presiden China, Jiang Zemin telah menggerakan suatu penindasan terhadap prinsip Sejati, Baik, Sabar, serta menganiaya sekitar 100 juta pengikut Falun Gong hingga menewaskan lebih dari 1000 orang. Kejahatan yang dilakukannya oleh Amnesty International dikatagorikan sebagai kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan. Tidak hanya itu, Jiang juga membohongi manusia diseluruh dunia, secara langsung menghancurkan prinsip moral yang dijunjung tinggi oleh umat manusia, menindas harapan mulia kesadaran nurani serta mencelakai tatanan sosial umat manusia.

Pengadilan Jiang Zemin

Sesampainya di tujuan akhir, digelar pengadilan moral dan hati nurani di pinggir Bundaran HI, yakni pengadilan kejahatan HAM dengan terdakwa Jiang Zemin selama satu jam lebih. Sidang dibuat sedemikian rupa sehingga sangat mirip dengan suasana persidangan di pengadilan. Ada Hakim ketua dan anggota, jaksa penuntut umum, pembela umum dengan baju toga, panitera dan tiga orang saksi. Terdakwa Jiang hanya diwakili dengan sebuah patung kertas agak kurus dalam posisi duduk dengan muka gambar Jiang Zemin. Di belakang panggung persidangan tertulis dua buah spanduk besar bertuliskan "Pengadilan Terbuka Terhadap Jiang Zemin", dan "Praktisi Falun Gong Indonesia Turut Menuntut Jiang Zemin ke Pengadilan".

Pengadilan terbuka ini sekaligus merupakan simbol perjuangan mereka atas masih macetnya seluruh prosedur dan mekanisme hukum nasional dan hukum internasional untuk menyeret Jiang Zemin ke pengadilan. Sebagaimana kita ketahui pengadilan HAM di Indonesia yang diatur dalam UU No. 26 tahun 2000 tidak memiliki yurisdiksi untuk mengadili seseorang yang berkewarganegaraan asing. Satu-satunya yang memungkinkan untuk ditempuh ialah Makamah Pidana Internasional (International Criminal Court) yang dibentuk lewat statuta Roma (1998). Pengadilan tersebut memiliki yurisdiksi universal dan menerapkan doktrin pertanggungjawaban individual dalam kejahatan yang serius yang mengancam perdamaian dan kemanusiaan. Dalam realitanya sampai detik ini usaha ke arah sana masih membentur dinding yang kokoh karena China tidak mau menyerahkan mantan presidennya tersebut. Hal ini dimungkinkan karena China memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, dan pemerintah China sendiri menolak terhadap statuta Roma tersebut.

Dalam pengadilan simbolis ini, Majelis Hakim Mahkamah Pidana Internasional memvonis Jiang Zemin dengan hukuman mati karena terbukti melakukan kejahatan berupa genosida dan kejahatan kemanusiaan, sesuai dengan fakta sebenarnya yang dilakukan oleh terdakwa terhadap para praktisi Falun Gong di China. Dan terdakwa telah melanggar perangkat-perangkat hukum internasional yakni: Statuta Roma tahun 1998 pasal 6 dan pasal 7; Piagam deklarasi universal Hak Asasi Manusia, pasal 2, 3, 5, 9, 18 dan 20 (1); Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik, pasal 6 (1), pasal 7, 18 (1), 18 (2), dan pasal 21; Konvensi internasional antipenyiksaan, dan perlakuan atau penghukuman lain yang keji, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat, (Resolusi Majelis Umum PBB 39/46) pada 1984; dan Deklarasi tentang Penghapusan Segala Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi Berdasarkan Agama dan Kepercayaan (Resolusi 36/55) pada 1981

Ruang Konferensi
Praktisi Berbagi Pengalaman
Seorang praktisi cilik tunanetra membaca "Lunyu" (Kata Ulasan)
dari Buku Zhuan Falun
Huruf Braille

Konferensi Berbagi Pengalaman
Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan dengan "Konferensi Berbagi Pengalaman Kultivasi Falun di
Golden Ballroom, Jakarta Hilton International yang diikuti sekitar 500 orang selama sehari penuh. Peserta berasal dari sejumlah daerah, seperti: Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Medan, Riau, Batam, Padang, Pontianak, dan lain-lain. Puluhan peserta dari beberapa negara di Asia seperti dari Malaysia, Singapura, Thailand, Hongkong dan Taiwan juga turut meramaikan kegiatan ang berlangsung hikmat ini.

Dalam konferensi yang dibuka oleh Deputi Menteri untuk Sejarah dan Arkeologi, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Hari Untoro Drajat yang juga praktisi Falun Gong ini, sebanyak 20 praktisi dari sejumlah daerah menceritakan pengalamannya setelah latihan senam dan meditasi Falun Gong. Pengalaman itu ada yang berupa perubahan dari segi kesehatan, seperti sembuh dari penyakit kronis yang dideritanya sekian lama, lepas dari ketergantungan terhadap obat dan rokok, kondisi tubuh yang semakin fit dan bugar, serta terbebas dari stress yang berkepanjangan. Selain kesehatan fisik, mereka juga berbagai pengalaman tentang peningkatan moral dan spiritual yang dirasakannya seperti: semakin bisa bersikap sabar, baik dan mementingkan orang lain. Juga peningkatan dari segi pemahaman terhadap tubuh, jiwa dan alam semesta. Acara konferensi juga diselingi dengan hiburan nyayian, tarian dan puisi.

Usai konferensi, acara dilanjutkan dengan belajar bersama dan diskusi antar praktisi dalam memahami hukum alam semesta yang diajarkan oleh pendiri Falun Gong, Master Li Hongzhi. Forum ini juga dimanfaatkan oleh praktisi dosmetik untuk menimba pengalaman dari raktisi-praktisi luar negeri, khususnya dari Taiwan.


    Kembali ke halaman Berita dan Kegiatan Falun Dafa di Indonesia